Gula Rafinasi untuk Makanan dan Minuman

GULA RAFINASI UNTUK INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN

Kualitas produk yang masih lemah dan pasokan bahan baku yang seret, merupakan kendala yang banyak ditemui di industri kecil dan menengah (IKM). Hal ini juga berlaku terhadap IKM yang bergerak di sektor makanan dan minuman (mamin).

Banyak pelaku IKM di sektor mamin yang sebenarnya memiliki peluang untuk berkembang karena produk yang dibuatnya memiliki ciri khas tersendiri dan unik — yang banyak diminati masyarakat, seperti kue-kue khas daerah. Namun, mereka tidak mampu memanfaatkan peluang yang sudah di depan mata itu karena produk yang mereka buat tidak tahan lama atau  kualitas produknya kurang bagus.

Sedangkan kalaupun ada IKM yang mampu membuat produk makanan dan minuman dengan kualitas bagus, mereka tidak bisa melakukan kegiatan produksi secara berkesinambungan karena pasokan bahan bakunya, berupa gula rafinasi, tidak bisa diperoleh secara rutin.

Kendala yang dihadapi IKM mamin itu ternyata dicermati benar oleh instansi terkait. Sebagai instansi yang membina IKM, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meluncurkan terobosan untuk membantu IKM di sektor mamin mengatasi kendala yang selama ini dihadapinya.

Terobosan yang mulai dilakukan Kemenperin adalah mensosialisasikan penggunaan gula rafinasi kepada para pelaku IKM di sektor mamin yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kemenperin akan mempertajam program sosialisasi mengenai penggunaan gula rafinasi kepada IKM di sektor mamin,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kemenperin, Euis Saedah.

Menurutnya, sosialisasi tersebut diperlukan agar IKM mampu menghasilkan produk makanan dan minuman yang berkualitas sehingga produk yang dihasilkan mampu memiliki kualitas bagus yang pada akhirnya akan membuat daya saing produk IKM menjadi lebih tinggi lagi.

Euis mengakui bahwa gula rafinasi merupakan jenis gula yang cocok untuk digunakan bagi kegiatan produksi makanan dan minuman. Hal ini dikarenakan kualitas gula rafinasi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan jenis gula lainnya.

“Kalau pakai gula biasa, produknya tidak tahan lama dan mudah rusak atau blenyek. Selain itu, harga gula rafinasi juga lebih murah,” ungkapnya.

Sosialisasi

Agar IKM dapat mengenal lebih banyak lagi soal gula rafinasi, Kemenperin akan mensosialisasikan penggunaan gula rafinasi melalui dinas-dinas perindustrian yang ada di seluruh Indonesia. Dinas-dinas itu nantinya akan diminta untuk mensosialisasikan tentang pengunaan gula rafinasi kepada IKM-IKM yang ada di daerah binaan masing-masing dinas tersebut.

“Bulan Maret nanti akan ada pertemuan dinas perindustrian se-Indonesia dan di pertemuan itu akan saya sampaikan tentang sosialisasi penggunaan gula rafinasi kepada IKM,” tegasnya.

Selain melalui dinas perindustrian, ungkap Euis, kegiatan sosialisasi tersebut juga akan dilakukan dengan menggandeng Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI).

AGRI akan difasilitasi untuk melakukan kerjasama kemitraan dengan koperasi IKM di dalam negeri bagi penyediaan pasokan gula rafinasi secara berkesinambungan dan dengan harga jual yang lebih murah.

Langkah ini sudah dimulai ketika beberapa hari lalu Kemenperin menfasilitasi terjadinya kerjasama kemitraan antara AGRI dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Wenang dari Sulawesi Utara.

Melalui kerjasama ini, AGRI akan memberikan kemudahan kepada KUD Wenang dalam mendapatkan pasokan gula rafinasi secara berkesinambungan dan denga harga yang jauh lebih murah dari harga umum. Pasalnya, melalui kerjasama itu AGRI memangkas beberapa jalur distribusi. KUD Wenang bisa membeli langsung gula rafinasi dari pabrik gula rafinasi.

Dengan kerjasama kemitraan ini, ungkap Euis, maka sosialisasi penggunaan gula rafinasi kepada IKM bisa menjadi lebih efektif lagi. Karena dengan kerjasama itu, maka IKM dapat lebih mudah memperoleh gula rafinasi. Selain itu, dengan harga yang lebih murah, juga akan merangsang IKM untuk menggunakan jenis gula tersebut. Terlebih lagi ada jaminan kesinambungan pasokan dari pabrik gula rafinasi.

Potensi

Potensi IKM di sektor mamin cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian,  jumlah IKM di sektor makanan dan minuman saat ini mencapai 1,5 juta unit. Sementara secara total, jumlah IKM nasional tercatat 3,8 juta unit.

“Pertumbuhan IKM pangan kita mencapai rata-rata 16% per tahun, di atas rata-rata IKM secara umum yang sekitar 10%,” ujar Euis.

Sosialisasi penggunaan gula rafinasi kepada IKM juga akan membantu pengurangan penggunaan gula kristal putih (GKP) oleh industri dan merembesnya gula rafinasi ke pasar umum.

Di masa lalu, sering mucul tuduhan jika hilangnya gula kristal putih di pasar umum antara lain dipicu oleh banyaknya IKM yang menggunakan gula kristal putih. Begitu juga ketika harga gula kristal putih di pasar jatuh, muncul tuduhan bahwa hal itu antara lain dipicu oleh merembesnya gula rafinasi ke pasar umum.

Sesuai Permendag Nomor 527 Tahun 2004 memang telah dibatasi peredaran gula rafinasi hanya untuk kalangan industri saja. Gula jenis ini tidak boleh dipasarkan untuk konsumsi umum atau rumah tangga.

Euis sendiri yakin dengan adanya sosialisasi dan kerjasama kemitraan, perembesan gula rafinasi ke pasar umum tidak akan terjadi lagi. ”Masyarakat nanti yang akan mengawasi langsung sehingga tidak ada lagi rembesan gula rafinasi ke pasar umum,” ucap Euis. B Wibowo

AGRI Dukung Pasokan ke IKM

Kebijakan pemerintah untuk mensosialisasikan lebih gencar lagi penggunaan gula rafinasi kepada IKM di sektor makanan dan minuman, mendapat dukungan dari pelaku IKM.

“Kegiatan itu memang sangat diperlukan karena masih banyak IKM yang belum mengetahui secara detil mengenai keunggulan penggunaan gula rafinasi dalam kegiatan produksi mereka,” jelas Ketua KUD Wenang, Joost Sepang.

Joost sendiri mengakui kalau dari 6.972 IKM anggota KUD Wenang, belum semua mengenai secara jelas tentang keunggulan penggunaan gula rafinasi.

“Masih ada sebagian IKM yang belum paham benar dengan gula rafinasi. Karena itu, hal ini perlu diatasi dengan meningkatkan sosialisasi tentang gula rafinasi kepada mereka,” paparnya.

Joost menegaskan, saat ini IKM di Sulut membutuhkan 1.000 ton gula rafinasi untuk kegiatan produksinya. Jumlah ini dipastikan akan terus meningkat seiring dengan makin banyaknya IKM yang menyadari keunggulan gula rafinasi bagi produksi makanan dan minuman.

Masih adanya IKM yang belum mengenal secara jelas tentang penggunaan gula rafinasi serta masih adanya kendala dalam penyaluran gula tersebut secara berkesinambungan,  juga terjadi di sejumlah provinsi lainnya, seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat  dan Yogyakarta.

“Kami belum mengetahui secara jelas mengenai keunggulan gula rafinasi dalam kegiatan produksi,” ujar Sutardi, seorang pengusaha yang bergerak dalam produksi makanan khas Jawa Tengah.

Ketua Umum AGRI, Suryo Alam mengatakan, pihaknya akan mendukung langkah pemerintah dalam mensosialisasikan penggunaan gula rafinasi kepada IKM di negeri ini. Dukungan yang akan dilakukan AGRI, ungkapnya, antara lain memberikan jaminan pasokan jenis gula tersebut kepada IKM sehingga kegiatan produksi IKM bisa tetap berjalan lancar.

“Kami berkomitmen menjamin pasokan untuk IKM. Tidak ada batasan kuota. Tergantung berapa yang dibutuhkan. Nanti mekanismenya B to B. Kalau ada kendala, AGRI akan turun tangan dan memfasilitasi,” tegas Suryo.

Suryo yakin, kerjasama yang dilakukan AGRI dengan koperasi-koperasi IKM akan memacu upaya peningkatan kualitas produk IKM pangan di pasar domestik maupun ekspor. Terutama setelah selama ini terjadi kendala akses gula rafinasi bagi IKM.

Saat ini AGRI telah menjalin kerjasama kemitraan soal kesinambungan pasokan dan harga jual yang lebih murah dengan koperasi-koperasi IKM di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sulawesi Utara. update by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Pabrik Gula Mini.com adalah pusat data dan informasi untuk seluruh praktisi sektor pergulaan di Indonesia. Data dan Informasi yang kami sajikan dalam website kami adalah analisa essensial berbasis faktual mulai tahun 2005 hingga 2015.