PTPN X investasikan bisnis non gula

BISNIS NON GULA MENARIK BAGI PTPN X

PT Perkebunan Nusantara X (Persero) mengincar pendapatan sebesar Rp1,7 triliun per tahun dari bisnis nongula. Diversifikasi produk PTPN X dimulai dengan bisnis produk Bioetanol dan Listrik yang telah dimulai pada tahun ini.   Direktur Utama PTPN X, Subiyono, mengatakan, selama ini industri berbasis tebu nasional belum mampu melakukan diversifikasi produk secara optimal. Pelaku industri tebu selama ini hanya fokus ke peningkatan produksi gula tanpa melirik potensi diversifikasi bisnis lainnya.

“Padahal, setiap bagian dari tebu mengandung banyak potensi bisnis yang bisa dimanfaatkan dan menjanjikan keuntungan menggiurkan,” kata Subiyono dalam siaran pers pagi ini (7/2/2013).   Subiyono yang juga ketua umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), menjelaskan sebagai komoditas yang highly-regulated, industri tebu mengandung sekian kompleksitas. Di satu sisi, biaya produksi gula terus menanjak naik seiring kenaikan harga tebu yang harus dibeli dari petani dan peningkatan upah pekerja.

Namun, di sisi lain, harga gula tak bisa dibentuk pada level yang menjanjikan marjin memadai karena perhitungan daya beli konsumen dan intervensi pemerintah. Setiap harga gula menanjak, pemerintah melakukan intervensi.   Kondisi ini membuat marjin pengusahaan gula tak akan cukup mampu untuk dibuat ekspansi memperluas lahan maupun meningkatkan kualitas permesinan.

“Sehingga, pendapatan yang dihasilkan dari produksi gula dalam satu musim giling hanya untuk gaji karyawan, operasional perusahaan, dan dividen kepada pemegang saham. Padahal, industri ini butuh banyak investasi, mulai dari pabrik hingga budidaya. Jika hanya mengandalkan dari bisnis gula, optimalisasi laba akan sulit dilakukan, sehingga investasi baru tak bisa optimal,” jelasnya dalam siaran pers.   Karena itu, diperlukan diversifikasi bisnis agar kinerja perusahaan pergulaan terus meningkat. Keuntungan dari diversifikasi bisa digunakan antara lain untuk ekspansi lahan dan investasi permesinan yang dengan sendirinya juga akan meningkatkan produksi gula sebagai komoditas penting nasional.

“Setiap 1 ton tebu, selain menghasilkan gula, jika diolah secara optimal juga akan menghasilkan surplus power listrik 100 KW, etanol 12 liter, dan pupuk biokompos 40 kilogram. Kita juga masih bisa menghasilkan listrik dari limbah etanol yang diolah lagi,” ujarnya.    Dia mencontohkan, di PTPN X, potensi penerimaan dari bisnis produk tebu nongula mencapai Rp 1,7 triliun per tahun. Pay back period-nya berkisar 3-5 tahun.   Subiyono mengatakan, penerimaan Rp 1,7 triliun itu datang dari empat sektor bisnis. Pertama, cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik. Potensi pendapatan dari bisnis ini di sepuluh pabrik gula (PG) di lingkungan PTPN X mencapai kisaran Rp 633,89 miliar sampai Rp 684,51 miliar. Total potensi listrik yang bisa dihasilkan dari PG di PTPN X mencapai 225 megawatt (MW).

“Contohnya, di PG Ngadiredjo Kediri (salah satu PG milik PTPN X), potensi listriknya 37,81 MW, dipakai sendiri 7,67 MW, bisa dijual sekitar 30,14 MW. Potensi pendapatannya Rp 107,42 miliar. Itu semua butuh investasi Rp 310,4 miliar, sehingga pay back period atau tingkat pengembalian investasinya sekitar 3 tahun,” jelasnya.   Potensi bisnis kedua adalah etanol dengan bahan baku tetes tebu. PTPN X setiap tahun menggiling sekitar 6,5 juta ton tebu, sehingga bisa menghasilkan 78 juta liter etanol. Dengan asumsi harga Rp 8.000 per liter, maka potensi pendapatan yang bisa diraup mencapai Rp 624 miliar.   Potensi bisnis ketiga, lanjut Subiyono, adalah biokompos yang terbuat dari pengolahan limbah padat tebu. Dari 6,5 juta ton tebu yang digiling setiap tahun di PTPN X, akan diproduksi 260 juta kilogram biokompos. Dengan harga Rp 200 per kilogram, potensi pendapatan mencapai Rp 52 miliar.   Adapun potensi keempat adalah listrik tenaga biofuel hasil pengolahan dari limbah bioetanol. Dari penghitungan sederhana bisnis ini, potensi pendapatan yang bisa diraup adalah Rp 374 miliar.   “Namun, untuk bisa melakukan diversifikasi, pabrik harus efisien dan optimal terlebih dahulu. Jika tak efisien dan kapasitas giling tak optimal, diversifikasi sulit dilakukan karena bahan olahan yang dihasilkan tak maksimal,” ujarnya.

PTPN X sudah memulai bisnis cogeneration secara terbatas di PG Ngadirejdo Kediri dan membangun pabrik bioetanol di Mojokerto. “Ke depan diversifikasi ini akan terus kami dorong,” tuturnya.   PTPN X kini memiliki 11 pabrik gula yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur, 3 kebun tembakau, dan 3 rumah sakit. Pada 2012, laba sebelum pajak perseroan mencapai Rp517 miliar, meningkat pesat dibanding 2011 sebesar Rp210 miliar. Re-Posted by Pusat Data dan Informasi Pabrik Gula Mini.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Pabrik Gula Mini.com adalah pusat data dan informasi untuk seluruh praktisi sektor pergulaan di Indonesia. Data dan Informasi yang kami sajikan dalam website kami adalah analisa essensial berbasis faktual mulai tahun 2005 hingga 2015.